Social Icons

Kamis, 02 November 2017

BENARKAH MALIN KUNDANG LUPA IBUNYA?








BENARKAH MALIN KUNDANG 
LUPA IBUNYA?

Cerita rakyat yang berasal dari Sumatra Barat, benar-benar menggugah sanubari sampai titik nadir tertinggi bagi yang meresapinya. Cerita Malin Kundang begitu tersohor bukan hanya sekitaran  Pantai Air Manis Padang Sumatera Barat saja, tetapi sudah sampai seluruh Indonesia, setiap orang tua maupun anak dan remaja, mengetahui dan pernah mendengar cerita tersebut, bahkan sedikit demi sedikit orang tua apabila menghadapi anak-anaknya yang kurang ajar, selalu memperingati k dengan kata-kata seperti sebagai berikut, ” Kamu ini seperti Malin Kundang saja, durhaka tahu kalau melawan orang tua, apalagi dengan seorang ibu”.
Kisah ini dimulai dari keinginan si Malin untuk merantau ketika kapal besar merapat di kampungnya. Dari awal seorang anak ada di lingkungan tempat tinggal bersama ibunya, dimana si anak menjadi penurut, rajin dan sayang. Ketika merantau, mulailah karakter yang dahulu belum nampak akhirnya terlihat dan nyata dilakonin si Malin. Si Malin malu, gengsi akhirnya bohong mengingkari serta tidak mengakui ibunya karena sudah mendapatkan lingkungan, bagi kehidupannya yang lebih membuat Malin menjadi terhormat.
Dari sinilah klimaks cerita yang dibuat oleh si pengarang. Terjadilah ketidakmengakuan dari seorang anak yang dulunya baik, menurut,  akhirnya berubah drastis, hal ini disebabkan karena lingkungan barunya mengubah karakter dan perilakunya menjadi buruk. Seperti pepatah kacang lupa kulitnya.
Di bawah ini penggalan cerita yang sangat menyentuh dari cerita rakyat, dikutip dari http://dongengceritarakyat.com/cerita-dongeng-malin-kundang-cerita-rakyat-sumbar. 2017.
"Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu," ucap ibunya sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.
"Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku," kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya. "Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah" pinta Malin memohon.
"Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak," kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, "Untuk bekalmu di perjalanan," katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.
Hari-hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, "Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?" tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut. la selalu mendo'akan anaknya agar selalu selamat dan cepat kembali.
Beberapa waktu kemudian jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. "Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?" tanyanya. Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.
Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, kini ia jalannya mulai terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.
"Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya," ucapnya saat itu.
Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai mengampirinya kembali. Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tak kunjung kembali untuk menengoknya.
"Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang...," rintihnya pilu setiap malam. Ia yakin anaknya pasti datang. Benar saja tak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju pantai. Orang kampung berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.
Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkiiauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah. Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang. Belum sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluknya erat, ia takut kehilangan anaknya lagi.
"Malin, anakku. Kau benar anakku kan?" katanya menahan isak tangis karena gembira, "Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?"
Malin terkejut karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang—camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, "Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!" ucapnya sinis, "Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!"
Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, "Wanita gila! Aku bukan anakmu!" ucapnya kasar.
Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, "Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?!" Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan ibunya. Dia tidak akan mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, "Hai, wanita gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!" Wanita tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati.
Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya ditengadahkannya ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu, "Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafhan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!" ucapnya pilu sambil menangis. Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Laiu sambaran petir yang menggelegar. Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping. Kemudian terbawa ombak hingga ke pantai.

Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.
Sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia, terkadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri, "Ampun, Bu...! Ampuun!" konon itulah suara si Malin Kundang, anak yang durhaka pada ibunya.
Akhirnya selesailah Cerita Malin Kundang yang kemudian menyesal, sebagai anak yang tidak mengakui ibunya, apabila mengakui maka bukanlah cerita si Malin Kundang, dan dia tidak bakalan menjadi batu. Kisah si anak durhaka yang pernah penulis baca ceritanya, dan pernah menjitak, serta menggetok langsung kepalanya si Malin Kundang, yang sedang membungkuk di Pantai Air Manis Padang. Ternyata kepalanya tidak benjol-benjol, malahan tangan penulis yang kesakitan, maklumlah yang dijitak dan digetok kepalanya adalah si Malin Kundang yang berbentuk batu. Simpulan sebagai berikut:
-              Pengarang cerita begitu menjiwai dalam melukiskan kisah ini.
-              Pengarang cerita mempunyai imajinasi yang tinggi dalam menuangkan cerita.
-              Pengarang cerita membawa pembaca ke dalam suasana ranah Minang.
-              Pengarang cerita pintar dalam membuat hidup tokoh-tokohnya menyatu dengan tempat  
               kejadian di Pantai Air Manis  Padang Sumatra Barat.
-              Pengarang cerita berhasil membuat kisah yang melegenda, dan memberi pesan moral
    universal.
-              Pengarang cerita berhasil menokohkan cerita dengan tokoh-tokoh sekan-akan  hidup.    
               Antara lain:
·         Ada perempuan yang membesarkan anaknya dengan kasih sayang, yang semakin lama semakin rentah, dan semakin lemah ditelan usia yang menua.
·         Ada laki-laki muda yang dibesarkan, akhirnya tumbuh dewasa dan pergi merantau untuk mengubah nasib hidupnya.
·         Ada perempuan tua yang menahan kerinduan untuk melihat dan bertemu dengan anak yang telah pergi merantau, dan tiada kabar beritanya.
·         Ada janji seorang anak yang tidak bisa direalisasikan, untuk mengubah nasib ibunya.
·         Ada kegagalan beradaptasi dalam hal karakter, sikap, rasa malu, gengsi dan lupa asalnya.
·         Ada semanagat dan keinginan menjadi kaya raya yang membutakan matanya si anak.
·         Ada doa yang tertumpahkan ketika seorang ibu, tidak mampu menahan kerinduan dan tidak dapat melampiaskan rasa rindu yang sudah menggunung.
Penulis persembahkan pesan moral untuk pembaca tulisan ini, antara lain

    • Jangan lupa untuk selalu membiasakan menceritakan  si Malin Kundang ini ke anak-anak.
    • Jangan sampai ada Malin Kundang-Malin Kundang lainnya, anggap saja ini merupakan simbol peringatan, akan seorang anak jangan kurang ajar apalgi durhaka kepada ibunya.
    • Hormatilah orang tua terutama ibu kita sendiri, jangan sampai ibu mengeluarkan air mata karena perbuatan anaknya.
    • Semasih ibu hidup mintalah selalu menyebut nama kita di dalam doa-nya.
    • Apalah arti harta duniawi daripada menyakiti, mengingkari dan mendurhakai ibu sendiri.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter