Social Icons

Rabu, 01 November 2017

SHE HAS BE LIARED?






DIA BERBOHONG ?

Penulis  kenal dengannya ketika pulang bersama ke kota Tangerang. Selama perjalanan banyak sekali kisah yang diceritakannya, sampai terantuk-antuk kepala  menahan kantuk. Tetapi tetap saja dia bercerita  dengan serunya, kadang-kadang diselingi dengan gerakan tangannya ke sana kemari. Lucu juga melihatnya di tengah ngantuk yang luar biasa ini. Apa tidak sadar lawan bicaranya sudah mau terbang ke alam mimpi, tapi masih semangat untuk cerita cerita lagi?...yasudahlah mungkin dia memang perlu tempat  untuk mencurahkan semua apa yang ingin dia tuangkan. Semoga penulis jangan jadi tempat penampungan sampah keluh kesahnya saja, tapi bisa simbiosis mutualisme. Ada beberapa cerita yang dia sampaikan, yang masih penulis ingat, tentang dia punya tanah seluas satu hektar ditanami pohon jati, sekarang sudah hampir lima tahun ditanam, kemudian dia punya sawah seluas satu hektar, dan terakhir dia bilang punya peternakan bebek dengan jumlah 300 ekor, dimana setiap hari bisa menghasilkan telur bebek sejumlah 250 butir. Ketika penulis berminat untuk menampung telur bebek yang benar-benar baru keluar dari bebeknya, dia berkilah sudah dipesan oleh tengkulak di sana. Yaah batallah untuk merintis usaha telur bebek asin, yang sudah diangan-angan penulis untuk masa depan. Tidak berapa lama sampailah
Selang beberapa hari penulis bertemu dengan seseorang yang sepertinya pernah bersama selama dua jam perjalanan, yaah betul dia seorang perempuan setengah tua, yang selama perjalanan tidak berhenti untuk bercerita. Tapi kenapa wajahnya ditutupi kain, dan sangat terkejut ketika melihat penulis mengenalinya? Seperti biasa penulis tidak akan membuat malu siapapun, apabila mungkin kedok kebohongannya akan terbongkar.
“Ini ibu yang pernah satu perjalanan dengan saya yah?..apa kabarnya?”, Sapa Penulis meyakinkannya.
“Tidak, mungkin ibu salah lihat orang, saya tidak kenal” Jawab ibu tersebut sambil berlalu.
“Oh maaf kalau saya salah orang, saya pikir saya kenal”, Akhirnya penulis menyingkir ke samping jalan,  dan memberi jalan bagi ibu tersebut untuk berlalu dari tempatnya orang berjualan. Sambil melirik ke arah belakang penulis terus menatap ibu tersebut karena mengenali warna suaranya, sampai akhirnya hilang dari kerumunan pasar. Tiba-tiba ada dua ibu-ibu menghampiri dan menanyakan sebagai berikut:
“Kenal dengan ibu tadi?..dia itu gila”, Katanya kepada penulis sambil tangannya disilangkan di atas dahinya masing-masing, kenapa bisa gila yah, waktu dalam perjalanan tampak normal, apakah penulis salah orang, yaah semoga salah orang.
“Saya tidak tahu apakah ibu tadi sama dengan yang saya kenal dalam perjalanan pulang ke Tangerang? Jawab penulis
“ Iya, dia tuh emang suka jalan, minjam uang ke tetangganya, untuk ke Jakarta melihat kuburan dua anaknya, kalau dalam perjalanan pulang dia selalu jadi waras, tetapi kalau di rumah atau di lingkungan tempat tinggalnya jadi begini nih”, Kata kedua Ibu-Ibu tadi berbarengan sambil mengangkat kembali tangannya untuk disilangkan di dahinya lagi. Sambung ibu-ibu dua lagi
“Pasti yang diomongi tentang dia punya sawah, tanah dan bebek yah? Emang kasian, dia terkena musibah, dibohongi orang sehingga terlibat hutang, tanah dan sawah digadai, dan tak mampu untuk menebusnya, begitu juga bebek peliharaannya habis dicolongi orang-orang di kampungnya, suaminya meninggal gantung diri, karena tidak kuat menanggung lilitan hutang yang demikian banyak, dan  dia-nya pernah coba gantung diri tetapi gagal, akhirnya stres anak sendiri yang saat itu sedang kuliah di Jakarta kena imbasnya, dipaksa untuk bunuh diri bersamanya, akhirnya kedua anaknya meninggal, dia-nya masih bisa diselamati tetangga, sekarang dia seperti hidup gak mau, matipun gak mau”, Kata Ibu-Ibu menceritakan panjang lebar kisah si ibu teman perjalanan penulis.
Sedih rasanya mendengar penjelasan tentang kisah si ibu yang ditinggal mati suami dan kedua anaknya. Kadang-kadang penulis terpikir, kenapa saat suami dan anak-anaknya meninggal, dia tidak meninggal, justru dialah yang terselamatkan, tetapi akhirnya seperti itu inilah rahasia Tuhan yang belum terkuak, sungguh ironis cerita yang penulis dengar. Mengapa yah apabila ada satu masalah, pasti dibelakang masalah tersebut akan ada rentetan masalah-masalah lainnya?. Tetapi penulis melihat ada sorot mata yang penuh duka lara, dan kesedihan yang demikian dalam. Ah sayang sekali dia tidak mau berbagi kesedihannya, tetapi berbagi mimpinya yang telah berlalu. Semoga ibu tersebut diberikan kesehatan, kewarasan dan kebahagiaan akherat. Dan semoga kita yang diberikan dan dilimpahkan kasih sayang,  dengan adanya keluarga yang lengkap, kita harus bisa bersyukur ke atas karunia yang tiada taranya. Amin.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter