DIA BERBOHONG ?
Penulis kenal
dengannya ketika pulang bersama ke kota Tangerang. Selama perjalanan banyak
sekali kisah yang diceritakannya, sampai terantuk-antuk kepala menahan kantuk. Tetapi tetap saja dia
bercerita dengan serunya, kadang-kadang
diselingi dengan gerakan tangannya ke sana kemari. Lucu juga melihatnya di
tengah ngantuk yang luar biasa ini. Apa tidak sadar lawan bicaranya sudah mau
terbang ke alam mimpi, tapi masih semangat untuk cerita cerita lagi?...yasudahlah
mungkin dia memang perlu tempat untuk
mencurahkan semua apa yang ingin dia tuangkan. Semoga penulis jangan jadi
tempat penampungan sampah keluh kesahnya saja, tapi bisa simbiosis mutualisme. Ada
beberapa cerita yang dia sampaikan, yang masih penulis ingat, tentang dia punya
tanah seluas satu hektar ditanami pohon jati, sekarang sudah hampir lima tahun
ditanam, kemudian dia punya sawah seluas satu hektar, dan terakhir dia bilang
punya peternakan bebek dengan jumlah 300 ekor, dimana setiap hari bisa
menghasilkan telur bebek sejumlah 250 butir. Ketika penulis berminat untuk
menampung telur bebek yang benar-benar baru keluar dari bebeknya, dia berkilah
sudah dipesan oleh tengkulak di sana. Yaah batallah untuk merintis usaha telur bebek
asin, yang sudah diangan-angan penulis untuk masa depan. Tidak berapa lama sampailah
Selang beberapa hari penulis bertemu dengan seseorang
yang sepertinya pernah bersama selama dua jam perjalanan, yaah betul dia
seorang perempuan setengah tua, yang selama perjalanan tidak berhenti untuk
bercerita. Tapi kenapa wajahnya ditutupi kain, dan sangat terkejut ketika
melihat penulis mengenalinya? Seperti biasa penulis tidak akan membuat malu
siapapun, apabila mungkin kedok kebohongannya akan terbongkar.
“Ini ibu yang pernah satu
perjalanan dengan saya yah?..apa kabarnya?”, Sapa Penulis meyakinkannya.
“Tidak, mungkin ibu salah lihat
orang, saya tidak kenal” Jawab ibu tersebut sambil berlalu.
“Oh maaf kalau saya salah orang,
saya pikir saya kenal”, Akhirnya penulis menyingkir ke samping jalan, dan memberi jalan bagi ibu tersebut untuk
berlalu dari tempatnya orang berjualan. Sambil melirik ke arah belakang penulis
terus menatap ibu tersebut karena mengenali warna suaranya, sampai akhirnya
hilang dari kerumunan pasar. Tiba-tiba ada dua ibu-ibu menghampiri dan
menanyakan sebagai berikut:
“Kenal dengan ibu tadi?..dia itu
gila”, Katanya kepada penulis sambil tangannya disilangkan di atas dahinya
masing-masing, kenapa bisa gila yah, waktu dalam perjalanan tampak normal,
apakah penulis salah orang, yaah semoga salah orang.
“Saya tidak tahu apakah ibu tadi
sama dengan yang saya kenal dalam perjalanan pulang ke Tangerang? Jawab penulis
“ Iya, dia tuh emang suka jalan,
minjam uang ke tetangganya, untuk ke Jakarta melihat kuburan dua anaknya, kalau
dalam perjalanan pulang dia selalu jadi waras, tetapi kalau di rumah atau di
lingkungan tempat tinggalnya jadi begini nih”, Kata kedua Ibu-Ibu tadi
berbarengan sambil mengangkat kembali tangannya untuk disilangkan di dahinya
lagi. Sambung ibu-ibu dua lagi
“Pasti yang diomongi tentang dia
punya sawah, tanah dan bebek yah? Emang kasian, dia terkena musibah, dibohongi
orang sehingga terlibat hutang, tanah dan sawah digadai, dan tak mampu untuk
menebusnya, begitu juga bebek peliharaannya habis dicolongi orang-orang di
kampungnya, suaminya meninggal gantung diri, karena tidak kuat menanggung
lilitan hutang yang demikian banyak, dan dia-nya pernah coba gantung diri tetapi gagal,
akhirnya stres anak sendiri yang saat itu sedang kuliah di Jakarta kena imbasnya,
dipaksa untuk bunuh diri bersamanya, akhirnya kedua anaknya meninggal, dia-nya
masih bisa diselamati tetangga, sekarang dia seperti hidup gak mau, matipun gak
mau”, Kata Ibu-Ibu menceritakan panjang lebar kisah si ibu teman perjalanan
penulis.
Sedih rasanya mendengar penjelasan tentang kisah si
ibu yang ditinggal mati suami dan kedua anaknya. Kadang-kadang penulis
terpikir, kenapa saat suami dan anak-anaknya meninggal, dia tidak meninggal,
justru dialah yang terselamatkan, tetapi akhirnya seperti itu inilah rahasia
Tuhan yang belum terkuak, sungguh ironis cerita yang penulis dengar. Mengapa yah
apabila ada satu masalah, pasti dibelakang masalah tersebut akan ada rentetan
masalah-masalah lainnya?. Tetapi penulis melihat ada sorot mata yang penuh duka
lara, dan kesedihan yang demikian dalam. Ah sayang sekali dia tidak mau berbagi
kesedihannya, tetapi berbagi mimpinya yang telah berlalu. Semoga ibu tersebut diberikan
kesehatan, kewarasan dan kebahagiaan akherat. Dan semoga kita yang diberikan
dan dilimpahkan kasih sayang, dengan
adanya keluarga yang lengkap, kita harus bisa bersyukur ke atas karunia yang
tiada taranya. Amin.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar