THE 8th HABIT
Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan
Judul Buku : The 8th Habit
(Melampaui Efektivitas
Menggapai Keagungan)
Nama
Penulis : Stephen R. Covey
Tahun
Terbit : 2005
Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama
Tempat
Terbit : Jakarta
INTISARI
Setiap orang dalam berbagai
posisi memiliki suara hati yang ingin diungkapkan, memiliki pendapat tentang
masalah yang sedang dihadapi dalam organisasi tempat ia bernaung. Namun banyak dari
pihak pimpinan yang tidak mau mendengarkan dan memahami “isi hati” dari para
“bawahannya”, sehingga timbulah derita yang bersifat pribadi namun sangat
mendalam.
Dalam buku “The 8th Habit” ini para pemimpin maupun
semua orang dengan berbagai posisi di organisasi/perusahaan diharapkan dapat
menerapkan habit ke-8, yaitu menemukan suara anda dengan dibimbing oleh 4
kecerdasan—fisik (PQ), mental (IQ), emosi (EQ), spiritual (SQ)—dan mengilhami
orang lain untuk menemukan suara mereka dengan cara mencoba untuk dipercaya
oleh orang lain, juga memercayai orang lain agar dapat menjalankan visi,
nilai-nilai, dan strategi bersama untuk mendapatkan hasil yang baik dan
berhasil mencapai titik gemilang dimana potensi terbesar ditemukan yang berasal
dari sinergi keagungan pribadi, keagungan kepemimpinan, dan keagungan
organisasi.
Semua
hal dalam buku ini perlu dilakukan dan harus diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari agar seorang pimpinan maupun semua orang dapat mempergunakan
suaranya dengan bijaksana untuk berbagi dengan sesama, melayani orang lain, dan
memahami orang lain agar tercipta rasa saling menyukai, lebih terbuka, jujur,
dan apa adanya, rasa saling menghormati terbangun, dan organisasinya dapat
menjadi lebih produktif.
KESIMPULAN
Buku ini pada dasarnya
mencoba untuk mengajarkan suatu paradigma dasar: bahwa manusia utuh—tubuh,
pikiran, hati, dan jiwa. Saat seseorang menjalankan proses kebiasaan ke-8
secara berurutan, yaitu menemukan suaranya sendiri, lalu membuat pilihan untuk
memperluas pengaruhnya dengan mengilhami orang lain untuk menemukan suara
mereka, dia meningkatkan kebebasan dan kemampuan memilihnya untuk memecahkan
tantangan-tantangan terbesarnya dan melayani berbagai kebutuhan manusia. Dia
juga belajar bagaimana kepemimpinan pada akhirnya merupakan sebuah pilihan,
bukan jabatan, seni yang memampukan orang lain itu, bisa tersebar secara meluas
di dalam organisasi dan masyarakat, dan dengan demikian kita memimpin
(memberdayakan) manusia, sementara kita mengelola atau mengontrol barang-barang.
Menyangkut
paradigma manusia, kita telah belajar bahwa dari dirinya sendiri setiap manusia
amat berharga, dan dianugerahi dengan kapasitas yang luar biasa dan hampir tak
terbatas. Kita telah belajar bahwa jalur untuk memperbesar kapasistas tersebut
adalah dengan memanfaatkan sebaik mungkin anugerah dan bakat-bakat kita itu.
Lalu, hampir seperti bunga yang bermekaran di musim semi, anugerah dan
bakat-bakat yang lain yang diberikan atau terbuka bagi kita, dan kapasitas yang
telah terpasang pada keempat bagian kodrat kita akan mendapatkan pembebasan
sehingga kita bisa menjalani sebuah kehidupan yang seimbang, terintegrasi,
memiliki daya pengaruh. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi. Jika kita
mengabaikan anugerah dan bakat-bakat kita, seperti otot yang tidak dipakai,
semuanya akan mengerut atau menyusut dan lenyap.
Kita
juga telah belajar bahwa budaya tempat kita hidup dan bekerja telah “memrogram”
kita agar menjadi biasa-biasa saja. Seperti perangkat lunak, budaya kita
mengkondisikan kita untuk mencapai kinerja jauh dibawah potensi kita yang
sebenarnya. Kalau kita tidak memperlakukan manusia sebagai pribadi utuh, sama
saja kita memperlakukannya sebagai barang, dengan mencoba mengontrol dan
mengelolanya. Paradigma era industri yang mengandalkan kontrol dan komando
membuat orang percaya bahwa sumber kekayaan yang terbesar terletak pada modal
dan peralatan, bukan pada manusia. Kita juga telah belajar bahwa kita memiliki
kemampuan untuk memrogram ulang perangkat lunak tersebut, dan kekuatan ini akan
mengilhami kita untuk mempimpin manusia, yang memiliki kekuatan untuk memilih,
dan mengelola barang yang tak bisa memilih.
Paradigma
proses perkembangan kita menjawab pertanyaan-pertanyaan “bagaimana” dan “kapan”
dan mengajarkan kita untuk terlebih dahulu mengalahkan diri kita dengan
mengesampingkan apa yang kita inginkan sekarang untuk mendahulukan apa yang
kita inginkan nanti. Prosesnya akan semakin menarik karena proses itu akan
semakin hebat dalam memperluas pilihan dan kapasitas kita. Jika kita mengikuti
prinsip-prinsip, kita secara perlahan-lahan akan mengembangkan kewibawaan moral.
Orang lain akan memercayai kita, dan jika kita benar-benar menghargai mereka,
melihat nilai diri dan potensi mereka, dan melibatkan mereka, kita bisa sampai
pada tahap memiliki visi bersama. Jika melalui kewibawaan moral kita, kita
mendapatkan kekuasaan formal atau jabatan, kita bisa secara bersama-sama
melembagakan prinsip-prinsip ini, sehingga tubuh dan jiwa akan bisa terus
menerus dipelihara. Akibatnya, kita akan meiliki kebebasan dan kemampuan yang
luar biasa untuk memperluas dan memperbesar darma bakti kita. Secara singkat,
kepemimpinan yang mengilhami orang agar dengan sukarela mengikuti kita hanya
akan muncul jika kita meletakan pelayanan di atas kepentingan diri kita.
%%% Selesai %%%
Semoga
ulasan ini bermanfaat bagi pengembangan soft skill anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar