SITI NURBAYA
APAKAH KAMU PERNAH ADA?
Beberapa kali penulis mengunjungi kota Padang
untuk urusan kerjaan sampingan tahun 2009, dan terakhir tahun 2017 ini. Selalu terasa nyesek di dada
ketika melewati jembatan Siti Nurbaya. Rekan dari Padang yang mendampingi
penulis selalu bilang, “Itu.. jembatan Siti Nurbaya yang terkenal, kita mampir
yuk, di situ kita bisa nongkrong dan bisa makan telur penyu”. Jawab penulis “
Iyaiya”, (dalam hati) ”Kenapa ini rekan, setiap penulis ke Padang selalu
melewati jembatan tersebut bahkan berkali-kali lagi, dan dengan ajakan yang
sama, nongkrong serta makan telur penyu, apa dia tidak tahu yah perasaan
penulis nih sensitif dengan kisah Siti Nurbaya?”.
Kisah Siti Nurbaya memang kisah yang tidak pernah
lekang oleh waktu dan jaman. Penulis membaca kisah cinta tak sampai tersebut
sejak SD, selain itu juga sering ditanyakan oleh guru dalam ujian soalnya
seperti ini, Siapa pengarang buku Kasih Tak Sampai? Atau Marah Rusli mengarang
buku apa?....sehingga penulis jadi hapal, akhirnya penasaran isi buku seperti
apa yah, setelah dibaca ternyata.....banyak menguras air mata sampai sesengukkan pakai saputangan. Ibu penulis sering bingung ketika penulis
selesai baca buku koq menangis, sensitif banget dan lebay istilah anak jaman
sekarang. Yaah begitulah kondisinya saat itu penulis sangat menjiwai dan
berempati akan isi cerita tersebut, memang hebat pengarangnya, menghanyutkan
suasana kesedihan, serta mampu menghidupkan tokoh di dalamnya, dengan alur
cerita karangan yang maha dahsyat.
Teringat cerita legendaris dengan seorang perempuan yang teraniaya selama hidupnya. Saking mirisnya penulis
teringat legenda tersebut, Ingin rasanya mengubah alur cerita legendaris tersebut.
Ingin rasanya menyampaikan ke pengarangnya yaitu Marah Rusli, dan memohon untuk
mau menorehkan kisah sedih tersebut, menjadi kisah bahagia untuk endingnya saja,
seperti si Datuk Maringgih, meninggal kemudian Syamsul Bahri menikahi Siti
Nurbaya, selesailah cerita tersebut dan ending seperti tersebut membuat penulis
lega, tenang serta turut bahagia dan tersenyum mungkin yang lain juga?... Memang
agak maksa karena penulis, ketika teringat kisah Siti Nurbaya, dan sebagai sesama
seorang perempuan tidak bisa menerima kondisi Siti Nurbaya diperlakukan seperti
itu. Ingin membantu dan melepaskan belenggu di dirinya, dan meneteskan setitik
kebahagiaan untuknya. Tetapi si pengarang tetap mempunyai pemikiran yang lain,
mematikan tokoh yang akan membahagiakan si Siti Nurbaya dan juga mematikan si
Siti Nurbaya juga..
Biasanya suatu cerita apabila awalnya sedih,
ditengah cerita makin menderita, di akhir kisahnya diberikan setitik kebahagiaan.
Kalau ini si pengarangnya Marah Rusli, sudah menorehkan luka ke Siti Nurbaya di
awal cerita, di tengah cerita ditambahkan torehan kesedihan, di akhir lebih
dahsyat lagi. Duh tak terperikan rasanya. Penulis biasa berempati apabila
membaca cerita apapun. Sampai tak tertahankan dalam dada penuh sesak kesakitan
yang luar biasa, apalagi yang mengalami derita seperti yang dialami perempuan muda yang sudah
mempunyai tambatan hati.
Akhirnya timbul pertanyaan? Mengapa ada kisah seperti Siti Nurbaya? Dan
kenapa harus ada cerita tersebut? Apalagi ketika legenda Siti Nurbaya tersebut
dituangkan dalam bentuk layar lebar, haduuh haru biru berkecamuk jadi satu.
Kenapa harus ada cerita tersebut? Kenapa harus terjadi?
Apalagi pemeran sebagai Siti Nurbaya saat itu aktris Novia Kolopaking yang berambut panjang terurai, masih berusia muda, cantik dengan wajah yang memelas, dan si tua bangkenya Datuk Maringgih diperankan oleh pemeran pria yang pas, dengan muka berekspresi culas, maruk, egois, jahat, tua, hidung bengkok tanda orang jahat, keriputan yah namanya sudah tua pasti keriput, dll. Semakin menghantam rasa sesak di dada penulis. Belum pemeran Syamsul Bahri yang pasrah dan terpaksa mau melepas kekasihnya untuk disunting si tue bangke, membuat penulis makin tidak mengerti, kenapa harus cinta kasih suci harus dilepaskan dan dikorbankan begitu saja, kenapa tidak diperjuangkan? Syamsul, Syamsul Bahri kenapa jadi begitu?? Koq kamu lembek sih... Memang benar Kisah kasih tak sampai selalu bikin hati hancur berkeping-keping dan menyedihkan.
Apalagi pemeran sebagai Siti Nurbaya saat itu aktris Novia Kolopaking yang berambut panjang terurai, masih berusia muda, cantik dengan wajah yang memelas, dan si tua bangkenya Datuk Maringgih diperankan oleh pemeran pria yang pas, dengan muka berekspresi culas, maruk, egois, jahat, tua, hidung bengkok tanda orang jahat, keriputan yah namanya sudah tua pasti keriput, dll. Semakin menghantam rasa sesak di dada penulis. Belum pemeran Syamsul Bahri yang pasrah dan terpaksa mau melepas kekasihnya untuk disunting si tue bangke, membuat penulis makin tidak mengerti, kenapa harus cinta kasih suci harus dilepaskan dan dikorbankan begitu saja, kenapa tidak diperjuangkan? Syamsul, Syamsul Bahri kenapa jadi begitu?? Koq kamu lembek sih... Memang benar Kisah kasih tak sampai selalu bikin hati hancur berkeping-keping dan menyedihkan.
Akhirnya penulis menyadari cerita legenda Siti
Nurbaya yang merupakan hasil karya Marah Rusli sedemikian dahsyat, pengarang
pandai sekali dalam menorehkan kata-kata, dan alur cerita yang mengharu-birukan suasana hati bagi pembacanya.
Pantasan saja kisah Siti Nurbaya yang dituang dalam buku Kasih Tak Sampai yang diterbitkan pada tahun 1922 dengan penerbit
Balai Pustaka. Luar biasa lakunya, bahkan sewaktu penulis masih SD, penulis
pernah heran kenapa ada buku semenarik ini, yang menganiaya perempuan, dan satu
pertanyaan penulis sewaktu masih kecil, “
Kenapa yah harus ada cerita Siti Nurbaya, apakah benar cerita itu pernah
terjadi?” terus penulis sering bertanya ke teman-teman penulis yang berasal
dari Padang, apakah benar ada cerita kenyataan tentang Siti Nurbaya?...duuh
perasaan merinding kembali menghantui diri penulis, karena ketika penulis
teringat kisah legenda Siti Nurbaya, benar-benar kisah kasih tak sampai. Dan
pertanyaanpun sampai penulis sudah berusia setengah abad saja bisa sama, sewaktu
penulis masih kecil “ Kenapa yah harus
ada cerita Siti Nurbaya, apakah benar cerita itu pernah terjadi?”. Penulis
ingin kisah tersebut tidak pernah ada, yang ada semoga hanya khayalan
pengarangnya saja. Semoga.... Tetapi.... kenyataannya di Padang di atas bukit ada
makam Siti Nurbaya? Haduuuh ...artinya??....Siti...Siti Nurbaya apakah kamu
memang pernah ada dan hidup di jamanmu???
Simpulan dari Buku Kasih Tak Sampai yang
pernah penulis baca antara lain (untuk pembaca tulisan ini agar mengetahui
kisahnya, bisa me-link ke cerita Siti Nurbaya di Google):
-
Pengarang buku begitu menjiwai dalam menorehkan
kata-kata pada setiap kalimat.
-
Pengarang buku mempunyai daya khayal yang
melampaui batas yang tinggi dalam alur cerita.
-
Pengarang buku membawa pembaca buku-nya keluar
dan melampaui dari batas kesedihan.
-
Pengarang buku membuat hidup suasana dengan
setting Sumatra Barat yang tradisional.
-
Pengarang buku berhasil membuat kisah yang
melegenda.
-
Pengarang buku dengan tokok-tokoh yang seperti ada
dan hidup mencapai sasarannya bahwa:
o
Ada perempuan yang lemah tak berdaya.
o
Ada orang tua yang berwatak egois serta memaksa anak perempuannya untuk menikah,
tanpa melihat pantas atau tidak bagi anak perempuannya, yang ada di pikiran
orang tua hanya terlepas dari jeratan hutang saja, tidak memikirkan secara
psikologis hati anak perempuannya yang hancur.
o
Ada lelaki tua yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan berwatak
jahat serta licik.
o
Ada lelaki muda yang tak berdaya, hanya main
belakang saja seperti pengecut.
o
Ada situasi dan kondisi keluarga dengan ekonomi
yang terhimpit hutang/ bangkrut.
o
Ada rentenir yang siap menolong dengan bunga
tinggi siap mencekik peminjamnya.
Penulis persembahkan pesan moral
untuk pembaca tulisan ini, antara lain:
-
Jangan sampai kita terjerat hutang, apalagi
sampai menjual atau mem-barter anak
gadis sendiri.
-
Hiduplah hemat dan lebih kerja keras lagi sebagai orang tua, sudah menjadi tanggung
jawab apabila mempunyai anak yang diberikan oleh Tuhan.
-
Apabila kita masuk dalam ekonomi pas-pasan.
Jangan pernah menyerah dengan takdir bumi, bahwa misalnya kita masuk ekonomi
pas-pasan. Berjuang terus dalam meningkatkan ekonomi keluarga.
-
Jangan meminjam uang dari rentenir, sama saja
menyiapkan lubang kubur sendiri. Apalagi pinjam uang melalui rentenir untuk
biaya makan sehari-hari.
-
Sebagai orang tua jangan egois dengan memaksa
menentukan masa depan anak sendiri.
-
Sebagai anak harus berani berkata tidak, untuk
hal yang merugikan masa depannya.
*****
Siti Nurbaya, legenda dari masa ke masa
BalasHapusIya legenda yang tidak akan pupus ditelan jaman, legenda seperti benar-benar terjadi dan nyata
Hapus