Social Icons

Selasa, 31 Oktober 2017

SITI NURBAYA, WHAT ARE YOU EVER THERE?








SITI NURBAYA

APAKAH KAMU PERNAH ADA?




Beberapa kali penulis mengunjungi kota Padang untuk urusan kerjaan sampingan tahun 2009, dan terakhir  tahun 2017 ini. Selalu terasa nyesek di dada ketika melewati jembatan Siti Nurbaya. Rekan dari Padang yang mendampingi penulis selalu bilang, “Itu.. jembatan Siti Nurbaya yang terkenal, kita mampir yuk, di situ kita bisa nongkrong dan bisa makan telur penyu”. Jawab penulis “ Iyaiya”, (dalam hati) ”Kenapa ini rekan, setiap penulis ke Padang selalu melewati jembatan tersebut bahkan berkali-kali lagi, dan dengan ajakan yang sama, nongkrong serta makan telur penyu, apa dia tidak tahu yah perasaan penulis nih sensitif dengan kisah Siti Nurbaya?”.
Kisah Siti Nurbaya memang kisah yang tidak pernah lekang oleh waktu dan jaman. Penulis membaca kisah cinta tak sampai tersebut sejak SD, selain itu juga sering ditanyakan oleh guru dalam ujian soalnya seperti ini, Siapa pengarang buku Kasih Tak Sampai? Atau Marah Rusli mengarang buku apa?....sehingga penulis jadi hapal, akhirnya penasaran isi buku seperti apa yah, setelah dibaca ternyata.....banyak menguras air mata  sampai sesengukkan pakai saputangan.  Ibu penulis sering bingung ketika penulis selesai baca buku koq menangis, sensitif banget dan lebay istilah anak jaman sekarang. Yaah begitulah kondisinya saat itu penulis sangat menjiwai dan berempati akan isi cerita tersebut, memang hebat pengarangnya, menghanyutkan suasana kesedihan, serta mampu menghidupkan tokoh di dalamnya, dengan alur cerita karangan yang maha dahsyat.
Teringat cerita legendaris dengan  seorang perempuan yang teraniaya  selama hidupnya. Saking mirisnya penulis teringat legenda tersebut, Ingin rasanya mengubah alur cerita legendaris tersebut. Ingin rasanya menyampaikan ke pengarangnya yaitu Marah Rusli, dan memohon untuk mau menorehkan kisah sedih tersebut, menjadi kisah bahagia untuk endingnya saja, seperti si Datuk Maringgih, meninggal kemudian Syamsul Bahri menikahi Siti Nurbaya, selesailah cerita tersebut dan ending seperti tersebut membuat penulis lega, tenang serta turut bahagia dan tersenyum mungkin yang lain juga?... Memang agak maksa karena penulis, ketika teringat kisah Siti Nurbaya, dan sebagai sesama seorang perempuan tidak bisa menerima kondisi Siti Nurbaya diperlakukan seperti itu. Ingin membantu dan melepaskan belenggu di dirinya, dan meneteskan setitik kebahagiaan untuknya. Tetapi si pengarang tetap mempunyai pemikiran yang lain, mematikan tokoh yang akan membahagiakan si Siti Nurbaya dan juga mematikan si Siti Nurbaya juga..
Biasanya suatu cerita apabila awalnya sedih, ditengah cerita makin menderita, di akhir kisahnya diberikan setitik kebahagiaan. Kalau ini si pengarangnya Marah Rusli, sudah menorehkan luka ke Siti Nurbaya di awal cerita, di tengah cerita ditambahkan torehan kesedihan, di akhir lebih dahsyat lagi. Duh tak terperikan rasanya. Penulis biasa berempati apabila membaca cerita apapun. Sampai tak tertahankan dalam dada penuh sesak kesakitan yang luar biasa, apalagi yang mengalami derita seperti  yang dialami perempuan muda yang sudah mempunyai tambatan hati.
Akhirnya timbul pertanyaan?  Mengapa ada kisah seperti Siti Nurbaya? Dan kenapa harus ada cerita tersebut? Apalagi ketika legenda Siti Nurbaya tersebut dituangkan dalam bentuk layar lebar, haduuh haru biru berkecamuk jadi satu. Kenapa harus ada cerita tersebut? Kenapa harus terjadi?  
Apalagi pemeran sebagai Siti Nurbaya saat itu aktris Novia Kolopaking yang berambut panjang terurai, masih berusia muda, cantik dengan wajah yang memelas, dan si tua bangkenya Datuk Maringgih diperankan oleh pemeran pria yang pas, dengan muka berekspresi culas, maruk, egois, jahat, tua, hidung bengkok tanda orang jahat,  keriputan yah namanya sudah tua pasti keriput, dll. Semakin menghantam rasa sesak di dada penulis. Belum pemeran  Syamsul Bahri yang pasrah dan terpaksa mau melepas kekasihnya untuk disunting si tue bangke, membuat penulis makin tidak mengerti, kenapa harus cinta kasih suci harus dilepaskan dan dikorbankan begitu saja, kenapa tidak diperjuangkan? Syamsul, Syamsul Bahri kenapa jadi begitu?? Koq kamu lembek sih... Memang benar Kisah kasih tak sampai selalu bikin hati hancur  berkeping-keping dan menyedihkan.
Akhirnya penulis menyadari cerita legenda Siti Nurbaya yang merupakan hasil karya Marah Rusli sedemikian dahsyat, pengarang pandai sekali dalam menorehkan kata-kata, dan alur cerita yang  mengharu-birukan suasana hati bagi pembacanya. Pantasan saja kisah Siti Nurbaya yang dituang dalam buku Kasih Tak Sampai  yang diterbitkan pada tahun 1922 dengan penerbit Balai Pustaka. Luar biasa lakunya, bahkan sewaktu penulis masih SD, penulis pernah heran kenapa ada buku semenarik ini, yang menganiaya perempuan, dan satu pertanyaan penulis sewaktu masih kecil, “ Kenapa yah harus ada cerita Siti Nurbaya, apakah benar cerita itu pernah terjadi?” terus penulis sering bertanya ke teman-teman penulis yang berasal dari Padang, apakah benar ada cerita kenyataan tentang Siti Nurbaya?...duuh perasaan merinding kembali menghantui diri penulis, karena ketika penulis teringat kisah legenda Siti Nurbaya, benar-benar kisah kasih tak sampai. Dan pertanyaanpun sampai penulis sudah berusia setengah abad saja bisa sama, sewaktu penulis masih kecil “ Kenapa yah harus ada cerita Siti Nurbaya, apakah benar cerita itu pernah terjadi?”. Penulis ingin kisah tersebut tidak pernah ada, yang ada semoga hanya khayalan pengarangnya saja. Semoga.... Tetapi.... kenyataannya di Padang di atas bukit ada makam Siti Nurbaya? Haduuuh ...artinya??....Siti...Siti Nurbaya apakah kamu memang pernah ada dan hidup di jamanmu???
Simpulan dari Buku Kasih Tak Sampai yang pernah penulis baca antara lain (untuk pembaca tulisan ini agar mengetahui kisahnya, bisa me-link ke cerita Siti Nurbaya di Google):
-          Pengarang buku begitu menjiwai dalam menorehkan kata-kata pada setiap kalimat.
-          Pengarang buku mempunyai daya khayal yang melampaui batas yang tinggi dalam alur cerita.
-          Pengarang buku membawa pembaca buku-nya keluar dan melampaui dari batas kesedihan.
-          Pengarang buku membuat hidup suasana dengan setting Sumatra Barat yang tradisional.
-          Pengarang buku berhasil membuat kisah yang melegenda.
-          Pengarang buku dengan tokok-tokoh yang seperti ada dan hidup mencapai sasarannya bahwa:
o   Ada perempuan yang lemah tak berdaya.
o   Ada orang tua yang berwatak egois serta  memaksa anak perempuannya untuk menikah, tanpa melihat pantas atau tidak bagi anak perempuannya, yang ada di pikiran orang tua hanya terlepas dari jeratan hutang saja, tidak memikirkan secara psikologis hati anak perempuannya yang hancur.
o   Ada lelaki tua yang memanfaatkan  kesempatan dalam kesempitan dan berwatak jahat serta licik.
o   Ada lelaki muda yang tak berdaya, hanya main belakang saja seperti pengecut.
o   Ada situasi dan kondisi keluarga dengan ekonomi yang terhimpit hutang/ bangkrut.
o   Ada rentenir yang siap menolong dengan bunga tinggi siap mencekik peminjamnya.
Penulis persembahkan pesan moral untuk pembaca tulisan ini, antara lain:
-          Jangan sampai kita terjerat hutang, apalagi sampai menjual atau mem-barter anak gadis  sendiri.
-          Hiduplah hemat dan lebih kerja keras  lagi sebagai orang tua, sudah menjadi tanggung jawab apabila mempunyai anak yang diberikan oleh Tuhan.
-          Apabila kita masuk dalam ekonomi pas-pasan. Jangan pernah menyerah dengan takdir bumi, bahwa misalnya kita masuk ekonomi pas-pasan. Berjuang terus dalam meningkatkan ekonomi keluarga.
-          Jangan meminjam uang dari rentenir, sama saja menyiapkan lubang kubur sendiri. Apalagi pinjam uang melalui rentenir untuk biaya makan sehari-hari.
-          Sebagai orang tua jangan egois dengan memaksa menentukan masa depan anak sendiri.
-          Sebagai anak harus berani berkata tidak, untuk hal yang merugikan masa depannya.

*****



2 komentar:

  1. Siti Nurbaya, legenda dari masa ke masa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya legenda yang tidak akan pupus ditelan jaman, legenda seperti benar-benar terjadi dan nyata

      Hapus

Number visiter