SOMEWHERE IN JAKARTA
Dialog bersama Kondektur Kopaja 93
Pagi itu di bulan Juli 2017 (waktu dan
tanggalnya lupa) penulis akan pergi kerja, dengan terburu-buru menutup pintu
gerbang, dan menunggu kopaja di depan
rumah, yang nampaknya dari kejauhan semakin mendekat. Dengan melambaikan tangan
serta mata memandang ke arah kopaja yang sudah mulai berhenti, naiklah penulis
ke dalam kopaja, dan seperti biasa duduk di belakang sopir. Berkali-kali
penulis merasakan hal yang aneh dari sopir dan kondekturnya yaitu sering ngelirik
ke penulis. Pada saat ditagih ongkos, kondekturnya seperti memberanikan diri
untuk bertanya ke penulis, sehingga terjadilah beberapa dialog singkat, sebagai
berikut:
“Saya sering lihat ibu naik kopaja? Dan turun di grogol, Ibu kerja
atau wirausaha di mana?”, Tanya Kondektur dengan senyum.
“Memangnya kenapa pak? Ada apa?”, Jawab Penulis
“Gak apa-apa sih, cuman nanya saja bu, soalnya orang seperti
ibu, rapi nampak terpelajar, koq mau naik kopaja, kenapa tidak naik mobil
pribadi saja bu?”, Tanya Kondektur kopaja lebih lanjut, sehingga penulis
tersenyum, dan kondektur tersebut seperti
menunggu jawaban. “Kasian juga”, Kata batin penulis masih dengan terseyum kalau
tidak dijawab atau membohong-pun penulis yang rugi jadi tambah dosa, akhirnya
penulis jawab.
“Iya saya kerja pak di daerah grogol”, Jawab penulis.
“Ooh di daerah grogol pantesan saya sering lihat, kayaknya
ibu kalo kerja jadi guru yah?”,Tanya Sopir Kopaja ikut nimbrung nanyanya, kepo
juga nih dan ada-ada saja si sopir sama
kondektur dalam hati penulis, mau tahu tentang kerjanya wanita cantik
ini,..heheh..
“Iya pak saya kerja jadi guru di Universitas Trisakti”, Jawab
penulis lagi.
“Owh pantesan, kita sering omongin ibu kalau sudah turun kopaja,
kenapa orang seperti ibu mau dan sering naik kopaja, koq mau yah naik kopaja. Kenapa Ibu gak bawa mobil
pribadi saja bu, mana enak campur di kopaja dengan bermacam-macam orang, saya
sering lihat ibu-ibu seperti ibu jarang ada yang mau naik angkot, berpakaian
rapi, keren dan seperti terpelajar, tapi ibu beda, itulah sebabnya saya
memberanikan diri untuk bertanya”, Panjang lebar kondektur yang kadang-kadang
disahuti sopir komentari penulis,
sedangkan penumpang lain ngelihatin terus. Ada rasa kawatir dan waspada
berkecamuk dalam hati, ada maksud apa yah, tapi yasudahlah penulis tidak
berpikir negatif, yang penting rute kopaja ini dan waktu keberangkatan kerja-pun
tidak dalam kondisi bahaya bukan tengah malam, tetapi penulis tetap waspada,
yaah namanya kota Jakarta, kumpul banyak manusia yang beraneka rupa dengan
segala karakter yang sulit kita duga.
“Yaah masa gak boleh naik kopaja pak, saya lebih suka naik
kopaja daripada bawa mobil sendiri, kan jarak rumah sangat dekat, setelah
sampai tempat kerja tidak usah mikirin mau parkir mobil dimana, belum macetnya
bikin stres. Hidup dibuat enak dan nyamanlah, kan jadi dapat penumpang juga si
bapak”, Jawab penulis menjelaskan.
“Wah, mantap yah bu, memang hidup harus dibuat enak dan
nyaman, tidak usah ngoyo cari uang, kalo sakit juga akan keluar uang, jadi
percuma deh nyari uang sampai ngoyo segala”. Jawab si Sopir menimpali omongan penulis
dan si kondektur.
“Iya pak secukupnya saja, tetapi kalau badan sedang sehat
yaah harus cari uang sebanyak-banyaknya jangan malas saja kalau mau meningkatkan
hidup, tapi kalau badan rasanya kurang sehat, yaah jangan dipaksa kerja, nanti
urusannya jadi panjang”, Jawab penulis sambil menyampaikan kode akan turun di kampus.
Akhirnya sampailah penulis diturunkan tepat di
depan gerbang Universitas Trisakti. Ketika penulis sudah turun dari kopaja, si
kondektur melambaikan tangannya sambil
berteriak “Terima kasih bu sudah mau ngobrol dengan kami”. Akhirnya penulis
menengok ke belakang sambil melambaikan tangan juga dan mengacungkan jempol,
dan terlihat juga si sopir melambaikan tangannya juga.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya hari Rabu Tanggal
4 Oktober 2017, ada kopaja yang melintas di depan penulis, ketika penulis
sedang berjalan menuju rumah, dari dalam kopaja terdengar suara bapak-bapak memanggil “
Buuuu, sedang ngapain, kabarnya gimana? Baik-baik yaaaah “, akhirnya penulis
menengok ke arah datangnya suara, owh si kondektur itu lagi, dengan senyum melebar penulispun melambaikan
tangan ke arahnya “ Iya pak baik, mantap deh”.
Ternyata dimanapun kita bisa berbuat baik dan
ramah ke siapapun, pasti dibalas dengan kebaikan dan keramahan juga, walaupun
kita harus tetap waspada kepada siapapun.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar