Social Icons

Selasa, 31 Oktober 2017

SOMEWHERE IN JAKARTA Dialog bersama Kondektur Kopaja 93







 SOMEWHERE IN JAKARTA

Dialog bersama Kondektur Kopaja 93


Pagi itu di bulan Juli 2017 (waktu dan tanggalnya lupa) penulis akan pergi kerja, dengan terburu-buru menutup pintu gerbang, dan  menunggu kopaja di depan rumah, yang nampaknya dari kejauhan semakin mendekat. Dengan melambaikan tangan serta mata memandang ke arah kopaja yang sudah mulai berhenti, naiklah penulis ke dalam kopaja, dan seperti biasa duduk di belakang sopir. Berkali-kali penulis merasakan hal yang aneh dari sopir dan kondekturnya yaitu sering ngelirik ke penulis. Pada saat ditagih ongkos, kondekturnya seperti memberanikan diri untuk bertanya ke penulis, sehingga terjadilah beberapa dialog singkat, sebagai berikut:
“Saya sering lihat ibu naik kopaja? Dan turun di grogol, Ibu kerja atau wirausaha di mana?”, Tanya Kondektur dengan senyum.
“Memangnya kenapa pak? Ada apa?”, Jawab Penulis
“Gak apa-apa sih, cuman nanya saja bu, soalnya orang seperti ibu, rapi nampak terpelajar, koq mau naik kopaja, kenapa tidak naik mobil pribadi saja bu?”, Tanya Kondektur kopaja lebih lanjut, sehingga penulis tersenyum, dan  kondektur tersebut seperti menunggu jawaban. “Kasian juga”, Kata batin penulis masih dengan terseyum kalau tidak dijawab atau membohong-pun penulis yang rugi jadi tambah dosa, akhirnya penulis jawab.
“Iya saya kerja pak di daerah grogol”, Jawab penulis.
“Ooh di daerah grogol pantesan saya sering lihat, kayaknya ibu kalo kerja jadi guru yah?”,Tanya Sopir Kopaja ikut nimbrung nanyanya, kepo juga nih dan ada-ada saja  si sopir sama kondektur dalam hati penulis, mau tahu tentang kerjanya wanita cantik ini,..heheh..
“Iya pak saya kerja jadi guru di Universitas Trisakti”, Jawab penulis lagi.
“Owh pantesan, kita sering omongin ibu kalau sudah turun kopaja, kenapa orang seperti ibu mau dan sering naik kopaja, koq mau  yah naik kopaja. Kenapa Ibu gak bawa mobil pribadi saja bu, mana enak campur di kopaja dengan bermacam-macam orang, saya sering lihat ibu-ibu seperti ibu jarang ada yang mau naik angkot, berpakaian rapi, keren dan seperti terpelajar, tapi ibu beda, itulah sebabnya saya memberanikan diri untuk bertanya”, Panjang lebar kondektur yang kadang-kadang disahuti sopir  komentari penulis, sedangkan penumpang lain ngelihatin terus. Ada rasa kawatir dan waspada berkecamuk dalam hati, ada maksud apa yah, tapi yasudahlah penulis tidak berpikir negatif, yang penting rute kopaja ini dan waktu keberangkatan kerja-pun tidak dalam kondisi bahaya bukan tengah malam, tetapi penulis tetap waspada, yaah namanya kota Jakarta, kumpul banyak manusia yang beraneka rupa dengan segala karakter yang sulit kita duga.
“Yaah masa gak boleh naik kopaja pak, saya lebih suka naik kopaja daripada bawa mobil sendiri, kan jarak rumah sangat dekat, setelah sampai tempat kerja tidak usah mikirin mau parkir mobil dimana, belum macetnya bikin stres. Hidup dibuat enak dan nyamanlah, kan jadi dapat penumpang juga si bapak”, Jawab penulis menjelaskan.
“Wah, mantap yah bu, memang hidup harus dibuat enak dan nyaman, tidak usah ngoyo cari uang, kalo sakit juga akan keluar uang, jadi percuma deh nyari uang sampai ngoyo segala”. Jawab si Sopir menimpali omongan penulis dan si kondektur.
“Iya pak secukupnya saja, tetapi kalau badan sedang sehat yaah harus cari uang sebanyak-banyaknya jangan malas saja kalau mau meningkatkan hidup, tapi kalau badan rasanya kurang sehat, yaah jangan dipaksa kerja, nanti urusannya jadi panjang”, Jawab penulis sambil menyampaikan  kode akan turun di kampus.
Akhirnya sampailah penulis diturunkan tepat di depan gerbang Universitas Trisakti. Ketika penulis sudah turun dari kopaja, si kondektur  melambaikan tangannya sambil berteriak “Terima kasih bu sudah mau ngobrol dengan kami”. Akhirnya penulis menengok ke belakang sambil melambaikan tangan juga dan mengacungkan jempol, dan terlihat juga si sopir melambaikan tangannya juga.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya hari Rabu Tanggal 4 Oktober 2017, ada kopaja yang melintas di depan penulis, ketika penulis sedang berjalan menuju rumah, dari dalam  kopaja terdengar suara bapak-bapak memanggil “ Buuuu, sedang ngapain, kabarnya gimana? Baik-baik yaaaah “, akhirnya penulis menengok ke arah datangnya suara, owh si kondektur itu lagi,  dengan senyum melebar penulispun melambaikan tangan ke arahnya “ Iya pak baik, mantap deh”.
Ternyata dimanapun kita bisa berbuat baik dan ramah ke siapapun, pasti dibalas dengan kebaikan dan keramahan juga, walaupun kita harus tetap waspada kepada siapapun.

*****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter