SOMEWHERE IN JAKARTA
Dialog bersama Tukang Ojek di Senja Hari
Dialog ini terjadi hari ini Selasa tanggal 31 Oktober 2017, ketika
penulis pulang dari kerja sekitar Pukul 15.30 WIB, seperti biasa jalur pulang
penulis melalui pintu gerbang
Universitas Trisakti pintu gerbang pertama yaitu seberang terminal Grogol. Dengan
berjalan kaki melewati jembatan penyebrangan akhirnya sampailah ke Terminal
Grogol, dekat tempat pangkalan para ojek, penulis duduk di dekat bangku bawah
pohon besar sebelahnya warung makan. Tiba-tiba terdengar sapaan dari arah
belakang.
“Baru pulang bu?”. Penulis-pun
menengok ke arah belakang, owh ternyata si bapak tukang ojek yang sering
menyapa dan tersenyum setiap penulis menunggu kendaraan angkutan umum, menghampiri
penulis.
“Iya pak, bagaimana kabarnya pak
sehat?” Tanya penulis
“Alhamdulillah saya sehat bu”. Jawabnya
“Oh syukurlah pak” Jawab Penulis
Kemudian dengan gerakan tubuh
(gestur), lemas si bapak ojek yang bernama Harun tersebut bilang,
“Haduuh bu hari ini tarikan sepi,
saya hanya dapat 50 ribu”, Keluh Bapak Harun
“Kenapa bapak mengeluh seperti
itu?” Tanya penulis keheranan, akhirnya si bapak ojek mulai curhat sama
penulis.
“Ini kan motor masih punya
dealer, bisa-bisa gak kebayar deh bulanannya, kalau si ibu kan enak banyak
duitnya, sekarang akhir bulan dapat gajian donk, enak yah bu kalau kerja terus
dapat gajian”, Keluhnya lebih lanjut, dalam hati penulis, mungkin si bapak
tukang ojek berharap penulis akan naik ojeknya, tetapi sering diomongin, penulis lebih suka naik mobil
angkot.
“Pak..kenapa sih bapak harus
mengeluh terus, sedangkan sudah dapat 50 ribu sore ini, harusnya bersyukur, coba kalau tidak dapat sama sekali
uang tarikan ojek, sedikit penghasilan tetap saja pak, diusahakan selalu bersyukur
yah pak, karena kita tidak pernah tahu kapan rejeki itu akan berlimpah ke si
bapak, jadi nikmatilah yang sudah kita peroleh. Si bapak juga lebih beruntung,
dan lebih hebat, apabila dibandingkan dengan saya, dengan usia sudah di atas 63
tahun masih bisa menghasilkan duit, dan bisa berbagi ke anak cucunya, sedangkan
saya belum punya cucu, dan yang terutama belum mencapai usia 63 tahun, si bapak
beruntung tuh pak, lebih disayang Tuhan, masih diberi kesehatan, bahkan masih
diberi umur sampai 63 tahun, selain itu buktinya walau ngeluh kurang duit
kehidupan tetap jalan kan dan tetap kebayar, cicilan motor bisa kebayar, masih
bisa makan, masih bisa beli bensin untuk motor,masih bisa beli mainan untuk
cucu iya gak pak??” Kata penulis, seperti seorang yang ahli motivator saja nih,
hehehehe.
“Heeh iyaya, benar juga si ibu
ngomong seperti itu, saya lebih beruntung sebenarnya, saya sehat, umur sudah 63
tahun masih gagah, masih bisa menghidupi isteri dan anak cucu, sedangkan si ibu
belum seperti itu yah”, Jawab Pak Harun dengan tersipu-sipu kesenangan.
“Naaah,...makanya pak jangan
lihat orang dari luarnya atau dari casing seperti di HP, si bapak juga jangan
lihat wah saya nih orang China, pastilah banyak duit, emangnya orang lain tahu bagaimana perjuangan saya,
untuk bisa seperti ini? Emangnya si bapak gak ngeh, ngapain saya sampai ke terminal
Grogol nungguin kopaja nyebrangin jembatan yang panjang itu sampai ngos-ngosan?
bagi saya bisa sih saya setiap hari naik ojek pulang pergi, atau saya bawa
mobil sendiri ke tempat kerja bisa saya lakuin? Tetapi kenyataannya tidak saya
lakukan. Karena saya sudah menyukai dan merasa nyaman kalau naik kopaja,
daripada naik ojek, saya takut dan mesti pegangan sekuat-kuatnya. Daripada saya tidak nyaman yaah
lebih baik saya naik kopaja” Jawab Penulis panjang lebar dengan sesekali nengok
ke samping kiri ke arah si bapak tersebut.
“Gimana caranya yah bu untuk
dapat tambahan duit, selain ngojek” Tanya Pak Harun sambil matanya kedip-kedip
dan memandang lurus ke depan ngikutin penulis.
“Pak si bapak ini sudah punya
modal, yaitu modal nekad jadi tukang ojek, tanpa malu kenapa tidak diteruskan
saja, sambil menunggu penumpang, si bapak usahakan deh jualan es mambo di taruh di termos, kalau
tidak punya termos atau kulkas pendinginnya, jualan saja minuman berperisa yang
ukurannya cup, misalnya....,....(penulis
sebutkan beberapa merk minuman instan, yang enak kalau diminum selagi dingin),
jadi sambil nunggu penumpang si bapak bisa gelar dagangannya, dan bisa dengan
mudah cepat digulung dagangannya, kalau ada penumpang ojek motor bapak. Atau si
bapak bisa jualan bakwan, itu kan bisa di bawa dengan mudah dan dijualnya,
cukup digelar di atas meja yang tidak terpakai, tuh banyak meja, itu kan bisa
mendapatkan tambahan duit dan bisa jadi lauk makanan kita sendiri, usahakan
makan bawa bekel, jangan beli mahal pak lauk-nya, daripada si bapak cuman
ngobrol sesama teman, atau kalau ngelihat saya cepat-cepat ngajak
ngobrol...hehehh...atau kalau si bapak sedang tanggung jualannya, sewain saja
motornya ke teman sendiri, kan lumayan dapat duit juga”, Jawab Penulis sambil
melihat ke depan juga, karena kopaja yang di tunggu-tunggu belum datang , dan
pak Harun juga mungkin melihat penulis terlalu lama menunggu, jadi bantu
ngeliatin gerbang masuk terminal. Setelah diam sesaat, kemudian pak Harun
bertanya lagi.
“ Bu, pernahkah kepikir hidup
jadi orang susah, karena saya liat si ibu ini punya wajah bukan orang susah”,
Tanyanya serius, masih sambil memandang ke depan melihat ke arah gerbang masuk
terminal.
“Hah?..maksudnya apa pak? Jadi orang
susah? Ada-ada saja nih si bapak. Tadi sudah saya omongin, jangan lihat orang
lain luarnya saja, tapi lihat cara orang tersebut berbicara, menghargai sesama,
dan jangan berpikir saya ini belum pernah susah?..saya sudah melampauinya pak,
dulu saya juga susah, susah dalam arti saya menikah dengan modal nol, tanpa
bantuan orang tua, sedangkan orang tua saya itu termasuk orang yang berada. saya
tidak mau minta ke orang tua begitu juga suami saya sendiri, Sehingga saya harus
hidup hemat sehemat-hematnya, saya harus memperhitungkan semua pengeluaran
saya, beli ini beli itu mesti seribu kali mikirnya, bahkan kalau menengok gaji
terlalu kecil, , tetapi hidup tetap harus berjalan, jangan mengeluh, tetap harus bersyukur, maka proses kehidupan
akan berjalan sebagaimana mestinya, yang akhirnya orang lain melihat kita itu
hanya hasil akhirnya saja”.Jawab Penulis.
Akhirnya dari kejauhan penulis
dan si bapak Harun melihat kopaja 93 arah Tanah Abang meluncur dengan cepatnya,
dan dengan sigapnya penulis-pun berdiri dari tempat duduk, untuk menuju dan
naik ke kopaja.
“Hati-hati yah bu, besok kalau
ketemu kita ngobrol lagi”, Kata Pak Harun sambil melambaikan tangannya.
“Okey pak, sampai ketemu besok
yah”, Jawab penulis sambil nengok ke belakang, karena sudah di dalam kopaja.
Duuh, dalam hati penulis, tidak
menyangka hari ini dialognya menjadi panjang lebar, biasanya hanya saling
senyum, menganggukkan kepala atau ngobrol basa basi. Memang setiap orang atau
siapapun melihat ke hal apapun, hanya
hasil akhirnya saja yang dilihat, tanpa mengetahui proses yang sudah dilalui, dimana proses
tersebut terkadang berjalan lambat atau
cepat, tergantung kuasa Tuhan Allah yang memberikan rejeki bagi umat-Nya,
semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Amin.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar