Social Icons

Jumat, 27 Oktober 2017

Antara pertumbuhan dan perkembangan anak



Antara Pertumbuhan

dan Perkembangan Anak

Sejak usia dini sebaiknya para orang tua mengajarkan anak-anaknya menulis, selain membaca dan berhitung. Bagi orang tua yang mempunyai anak bawah lima tahun (Balita) berlomba mencari sekolahan terbaik dari yang  paling terbaik, yang dapat mengubah perkembangan anak secara super kilat dari kemampuan hanya bermain-main untuk anak-anaknya menjadi super pinter berhitung dan membaca. Orang tua akan bangga dan puas dengan perkembangan anaknya apabila si anak pandai membaca dan pandai berhitung.

Sehingga perkembangan anak dengan dunia bermainnya, akhirnya sedikit demi sedikit memudar, walaupun pertumbuhan si anak akan tetap berjalan, tidak terpengaruh dengan perkembangannya. Sedangkan perkembangan dan pertumbuhan memang mempunyai pengertian yang  berbeda dan sifatnya saling mendukung untuk menciptakan manusia menjadi lebih “manusiawi”. Perkembangan anak lebih cenderung ke hal yang bersifat psikis (kejiwaaannya), dan pertumbuhan lebih cenderung ke hal fisik (terlihat dari kasat mata). Bahkan ada orang tua yang ekstrim, yang hanya mementingkan kepintaran saja, atau mempunyai pemikiran seperti, lebih baik perkembangan si anak tidak usah bermain-main, apalagi bersosialisasi dengan anak-anak lainnya yang hanya sekedar untuk bermain, ngobrol ke sana kemari  dan ujung-ujungnya si anak hanya sekedar tertawa lepas atau tertawa cekikikan bersama teman-temannya. Orang tua ingin anaknya juara dan juara lagi terus menerus, tanpa melihat ada satu hal yang hilang dari  dalam diri si anak secara psikis, memang pertumbuhan tetap berjalan, si anak menajdi tumbuh besar dan tinggi secara fisik atau terlihat. Dan yang hilang dari diri si anak akan tidak tergantikan dengan apapun, si anak akan tumbuh besar menjadi anak yang cenderung kurang pergaulan, kurang menghargai dan menghormati orang lain, bahkan akan tidak mempunyai rasa “manusiawi”.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan,  begitu banyak studi tentang perkembangan manusia, telah menjelma menjadi  sebuah disiplin ilmu,  dengan tujuan untuk lebih  memahami tentang apa dan bagaimana proses perkembangan manusia baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Seorang ahli filsuf Papalia, et. al, 2008 mengemukakan, perintis awal studi ilmiah perkembangan manusia adalah baby biographies,  tercatat pada sebuah jurnal tentang perkembangan awal anak. Yang akhirnya berkembang seiring dengan munculnya teori evolusi Charles Darwin, pertama kali melihat perilaku bayi adalah sebuah proses perkembangan. Sehingga pada tahun 1877 Darwin mempublikasikan catatannya tentang perkembangan sensori, kognitif, dan emosi anaknya di dua belas pertama kehidupannya. 
Manfaat dari berkembangnya disiplin ilmu tentang perkembangan manusia ini adalah terletak pada pendidikan. Apabila kita membicarakan tentang pendidikan, tentunya unsur yang mutlak ada manusia itu sendiri. Memahami proses perkembangan manusia baik itu secara fisik maupun psikis sangat bermanfaat bagi para pendidik. Hal ini akan menjadi petimbangan bagi pendidik, di dalam memilih serta memberikan materi pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada tiap tingkat perkembangan tertentu. Apabila orang tua dengan minimnya pengetahuannya tentang bagaimana mendidik anak, sebaiknya menyerahkan pendidikan anak ke yang ahlinya. Di sini fungsi Orang tua demi kelangsungan masa depan si anak, lebih baik bagaimana menyediakan modal pendidikan bagi anaknya. Tentunya  penyerahan si anak tidak 100 persen diserahkan  semuanya ke pendidik, ada waktu-waktu tertentu yang tidak dapat dijangkau oleh seorang pendidik di sekolah, seperti waktu setelah selesai sekolah/ kuliah, ini menjadi tanggung jawab orang tua. Karena ada waktu-waktu tertentu yang harusnya orang tua memberikan dan membagi waktunya yang terbatas untuk anaknya, yang biasa disebut “quality time”.  Sehingga untuk lebih baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yang merupakan mutiara keluarga bagi yang memiliki, sebaiknya diupayakan kerjasama yang lebih baik, lebih memahami, lebih berempati antara para pendidik dari semua tingkatan bersama orang tua, dalam hal menyediakan waktu yang berkualitas bagi proses untuk generasi penerus keluarga dan bangsa Indonesia yang akan mengalami fase-fase tertentu bagi hidupnya.

*****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter