Social Icons

Minggu, 20 Januari 2013

ABOUT CURUP CITY

Kota Curup dengan ibukota Kabupaten Rejang Lebong, nampaknya bisa dikatakan suatu kota yang kurang terangkat keberadaannya, tetapi apabila ditambahkan  dengan Provinsi Bengkulu, maka Kota Curup dapat terangkat dan dikenal orang. Saya sendiripun tidak terlalu mengenal Kota Curup, tetapi ketika ada dicantumkan Provinsinya yaitu Provinsi Bengkulu pikiran saya langsung melayang ke Pulau Sumatera. Dan dengan cepatnya di atlas saya dapat  dengan mudah menemukan  Kabupaten Rejang Lebong beserta Curup- nya dengan tulisan agak kecil. Mungkin inilah yang membuat Kota Curup kurang dikenal. Dan inipun  menjadi pemikiran bagi setiap orang yang belum kenal, maka tak sayang. Sehingga daerah ataupun suatu kota yang belum banyak dikenal dan tidak ada ikonnya, maka jarang didatangi oleh para wisatawan. Sehingga kota tersebut kurang berkembang. Atau walaupun sudah mempunyai ikon tetapi salah memilih dan menetapkan ikon tentulah berimbas menjadi tidak terkenal.
Sekarang bagaimana caranya, agar kota Curup bisa menjadi harapan semua orang, agar menjadi kota yang berkembang sesuai potensi kota itu sendiri?
Selintas mengenai Curup, menurut data  Curup merupakan kota terbesar ke-2 di Bengkulu. Merupakan penghasil beras, kopi dan sayur-sayuran utama di provinsi Bengkulu, yang hasilnya dikirim hingga ke Palembang, Jambi, Padang, Lampung, dan Jakarta. Selain hasil pangan tersebut ternyata Curup menyimpan harta kekayaan dalam hal pariwisata. Beberapa tempat wisatanya yang terkenal adalah Suban Air Panas, pematang danau, Gunung Kaba, Air Terjun di Kepala Curup, dan situs-situs prasejarah. Daerah ini juga dikenal sebagai salah satu tempat tumbuhnya Rafflesia arnoldii.

Dengan udaranya yang segar dan dingin Curup  terhampar di lembah dataran tinggi Sumatera, dan merupakan sebuah kota di daerah pegunungan bukit barisan dan dikelilingi oleh Bukit Kaba dan Bukit Daun. Penduduk aslinya adalah suku Rejang, namun banyak juga masyarakat dari suku lain seperti Jawa, Lembak, Minang, dan Serawai. Kota ini pernah menjadi ibukota Propinsi Sumatera selatan pada masa revolusi dibawah kepemimpinan Gubernur A.K. Gani. Selain itu adanya asimilasi kebudayaan daerah dengan orang pendatang, kini menjadikan kota Curup sebagai kota heterogen dari berbagai etnis di Indonesia (sumber: wikipedia).
Dengan mempelajari data-data sekunder Curup serta melihat di atlas, maka keberadaan Kota Curup sudah strategis, maka apabila orang akan ke  Kota Jambi ataupun Kota Padang akan melewati Kabupaten Rejang Lebong. Sebenarnya bertitik tolak dari sinilah Kota Curup dapat sebagai kota transit bagi Kota-kota besar lainnya yang ada di Sumatera Barat. Sebagai kota transit Curup dapat berbenah diri dengan menyediakan tempat persinggahan sementara, ataupun tempat rekreasi yang dapat mengikat secara perlahan kepada wisatawan, apalagi adanya  peninggalan situs  Megalitikum di sana, yang perlu digali dan di poles agar menjadi  lebih menarik.
Perlu dikenali tipe pariwisata apa yang akan dikembangkan di Curup, apakah tetap bernuansa alami atau ada polesannya?  Mengapa? Karena ada wisatawan yang tertarik dengan hal-hal yang berbau alami, dan adapula wisatawan yang tertarik tempat wisata atau tempat transit yang membuat mereka nyaman. Nyaman di sini maksudnya nyaman dalam hal keamanan, nyaman dalam hal fasilitas dan sarana. Dengan kelengkapan tersebut wisatawan akan berdatangan. Yang berbau alami pastilah wisatawan dari mancanegara, yang ada kenyamanan fasilitas, baik akomodasi maupun transportasi  pastilah wisatawan dari local. 
Selanjutnya dilihat potensi  kawasan Kota Curup yang dominan, yang paling dominanlah yang paling diangkat menjadi ikon kota, sebagai penarik wisatawan, misalnya situsnya yang lebih ditonjolkan, ataukah wisata alamnya  dengan berbagai bentuk dan tipe air terjun yang sudah ada di sana. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter