***Hinijati Widjaja
Tana Toraja di Sulawesi Selatan letaknya memang tidak sestrategis
tempat wisata di Pulau Jawa dan Bali, karena ia terletak di Pulau Sulawesi, yang menurut penulis agak jauh,
dan kurang menantang, seperti pepatah mengatakan Tak Kenal maka Tak Sayang . Meskipun demikian, Toraja berjarak
sekitar 350 kilometer utara Kota Makassar. Letak sangat cantik di dataran
tinggi Sulawesi Selatan bagian utara, tepatnya di jajaran pegunungan Kambuno
dan Latimojong, menambah keelokannya. Oleh sebab itulah panorama, alam Toraja sangat memukau, bergunung-gunung, menghijau,
dan berhawa sejuk dengan temperatur suhu antara 15-28 derajat celcius, semuanya
itu seharusnya dapat menarik perhatian dunia. Sejak tahun 2008 (sumber: mymakassar.com ), Toraja
terbagi menjadi dua wilayah administratif, yaitu Tana Toraja yang beribu kota
di Makale, dan Toraja Utara yang beribu kota di Rantepao. Toraja juga merupakan
salah satu ikon pariwisata Indonesia. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai
satu dari 10 tujuan wisata unggulan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan
menetapkan Toraja sebagai motor pariwisata dengan program Toraja Lovely December. Unesco memasukkannya ke dalam daftar
warisan budaya dunia.
Tana Toraja memang
merupakan salah satu warisan budaya, yang tidak hanya milik Bangsa Indonesia
saja, tetapi sudah mendunia dan wajib dikunjungi oleh pencinta wisata, karena
wisatanya yang unggulan, semuanya ada
seperti wisata budaya, wisata alam, wisata misteri, dan wisata kuliner. Beruntunglah penulis dapat
memperoleh tiket murah ke Makassar,dengan kebulatan tekad dan modal nekat
dengan membobol tabungan, akhirnya penulis meluncur ke Makassar, dengan membawa segenggam harapan utama yaitu
ke Tana Toraja, serta ziarah ke makam Pangeran Diponegoro tokoh favorit
penulis. Hal ini adalah mimpi yang menjadi nyata, mimpi yang perlu
disampaikan kepada masyarakat luas, ternyata di Pulau Sulawesi , ada tempat
unggulan yang wajib dikunjungi.
Di Toraja
sendiri masih mempertahankan sebagian ritual, seperti: Upacara Adat Rambu Solo ,Upacara
Adat Rambu Tuka, Upacara Adat Warisan Aluk. Aluk To Dolo’ . Ritual adat itu
digelar hampir sepanjang tahun, karena masyarakat Toraja selalu menggelar
upacara adat baik dalam kegembiraan atau kesedihan, sehingga upacara adat di
sana tidak pernah sepi, atau harus menunggu waktu dan kondisi ekonomi masyarakat
tertentu, jadi kalau berwisata budaya ke Toraja tidak akan rugi.
Dari hasil
pengamatan setelah menikmati keunikan budaya
Toraja selama tiga hari, yang penulis rasakan sangat kurang. karena perjalanan ke Toraja sudah menghabiskan waktu kurang
lebih 7 jam. Dimulai dari dari Bandara
Sultan Hassanuddian menuju Toraja. Sebenarnya
ada pesawat yang terbang dari kota Makassar menuju kota Makale dengan waktu tempuh hanya
40 menit. Karena Toraja memiliki sebuah bandar udara perintis bernama Bandara
Pongtiku, nama pahlawan setempat. Terletak di Kecamatan Rantetayo. Memiliki
landasan aspal dengan panjang 900 meter. Jaraknya sekitar 15 kilometer sebelah
barat jalur trans-Sulawesi yang menghubungkan Makale dan Rantepao . Tapi kurang
pas bagi penulis yang termasuk salah seorang
backpacker yang ingin menuntaskan
keingintahuan serta berempati akan suasana kota yang baru dipijak, selain ada
factor yang lain yaitu menghemat dana transportasi, yang kelak dananya akan
dipakai untuk membeli beragam souvenir khas Toraja. Karena apabila penulis
mendatangi suatu tempat wisata, pastilah tidak ketinggalan wisata berburu
souvenir sebanyak-banyaknya, karena souvenir tersebut merupakan kenangan yang
terindah dalam hidup. Beberapa kabupaten terlewati semua masih lingkungan alami,
terlihat di kerimbunan pohon tampak rumah-rumah tradisional berbentuk tongkonan, luar biasa estetisnya, suatu
paduan budaya setempat yang masih utuh, dalam pelukan alam yang masih asli. Dan yang
terpenting lagi semuanya itu tetap bisa dinikmati oleh wisatawan.
Rasanya kurang
afdol , datang ke suatu tempat apabila tidak melakukan wisata kuliner setempat.
Makanan dan minuman Khas Toraja ada yang
untuk muslim dan non-muslim, jadi tinggal dipilih saja disesuaikan dengan
religi masing-masing. Salah satu hal juga yang membuat Toraja menarik dan
terkenal adalah kopinya. Kopi Toraja merupakan kopi nikmat dan
harumnya luar biasa. ada dua jenis kopi yaitu robusta dan Arabica,
semua juga harus dinikmati dan diborong untuk di bawa pulang.
Akhirnya penulis
berpesan berkaitan dengan kegiatan rutin tahunan yang dicanangkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel bekerja sama dengan Lingkar Penulis Pariwisata (LPP) dalam December Toraja Lovely, “ Datanglah ke Toraja, nikmatilah
suguhan alam yang asli, ritual budaya yang memukau serta mengandung magnet
alam kehidupan. Karena Toraja tidaklah hanya untuk para penulis ceritakan serta ditorehkan di lukisan
saja, ataupun dikhayalkan oleh para pendongeng, tetapi Toraja sebaiknya kita datangi, nikmati serta bangkitkan gaungnya
agar bergema ke seluruh Mancanegara bersama keunikannya secara utuh, antik dan
terjaga”.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar