DEMAM APALAGI DI INDONESIA
SETELAH BERLALUNYA
IKAN LOUHAN, GELOMBANG CINTA & BATU AKIK ?
SETELAH BERLALUNYA
IKAN LOUHAN, GELOMBANG CINTA & BATU AKIK ?
Beberapa bulan ini
sebagian masyarakat kita menggemari batu akik, suatu jenis batu permata khas lokal.
Hal ini berdasarkan dipicu ketika melihat pembesar Indonesia menggunakan
cincin batu lokal dari daerah Maluku yang dikenal sebagai Batu Bacan. Seperti biasa
masyarakat kita ini sering terkena penyakit latah, serta adanya keinginan meniru sesuatu
yang kiranya digemari pada seorang pemimpin nomor satu negara.
Wabah latah batu akik mulai terlihat dengan munculnya pedagang kelas kaki lima sampai ke pedagang batu permata kelas toko. Kondisi ini membuat pedagang kelontong
atau pedagang cita seperti di Kota Bumi, Tangerang tempat penulis tinggal, ada yang juga menggelar
lapak tambahan, khusus menjual batu akik dari berbagai daerah di Indonesia.
Sedangkan
asal batu akik yang sudah dikenal lama bagi penggemar dan kolektor batu antara
lain dari Sukabumi, Garut , Cilacap, Pacitan, Martapura Kalimantan. Di masa itu batu akik di luar Kecubung Kalimantan masih
tergolong bukan batu berkelas atas, apalagi yang masih disebut batu Badar atau
jenis Sulaiman., seperti sulaiman cempaka, sulaiman madu, badar asem, badar
besi dan yang segolongan dengan itu. Batu yang dianggap berkelas kebanyakan batu dari luar
Indonesia, seperti batu Ruby Burma, Blue Saphire Ceylon atau Jamrud
Colombia yang terlihat bening mengkristal. Di strata bawahnya ada king saphire,
white saphire, black saphire, topaz, alexandre, aquamarine, nilam India.
Fenomena latah
sebagian masyarakat kita sebelum tergila-gila pada batu akik, agaknya juga
pernah terjadi antara 2007 sampai 2008, ketika pohon yang tidak
mempunyai bunga, yaitu Gelombang Cinta (Antharium sp) menjadi
booming. Antharium Jenmanii yang sebesar
kuku kelingking dihargai ratusan ribu rupiah. Kalau daun sudah mekar
melebar plus tongkol merah pucatnya bisa dihargai jutaan rupiah. Kabarnya ada
yang bisa ditukar dengan motor bebek baru.
Tapi
menanam dan memelihara pohon itu tidak seperti memelihara batu. Pohon lebih
banyak meminta perhatian, mulai dari penyiraman, pengaturan sinar matahari
sampai kepemupukan. Dengan resiko ketika perawatan pohon tidak sebagaimana
mestinya hasilnya tidaklah indah, tragisnya bila mati
karena keteledoran perawatan, atau diganggu hewan peliharaan
sendiri.
Di masa
booming Gelombang Cinta, kita masih ingat ada jenis Antharium Hookeri tulang
ikan yang berharga Rp 2 juta per pot. Sedangkan yang murah Antharium Wave of
love yang dihargai Rp 800.000,- per pot. Gilanya memberi harga terlihat pada
jensi Jennanii Variegatta yang per daun dihargai Rp 2,5 juta .
Fantastis. Padahal Gelombang Cinta manfaatnya hanya
memperindah taman luar ruang.
Diperkirakan
naik daunnya pamor Gelombang Cinta di masa lalu, kemudian menjadi layu,
nasibnya tidak akan merosot separah "kegilaan" orang pada batu akik.
Karena selama orang kita masih percaya tahyul dan mitos
serta dianggap ada manfaat spiritual, selain karean faktor keindahan dan unik,
batu akik tidak akan merosot drastis ketenarannya dibandingkan saat sebagian
orang kita sempat menjadi berpikir tidak rasional terhadap Gelombang
Cinta. Kegemaran mengoleksi batu akik dan jenis batu permata lainnya bagi yang
asli hobi batu - bukan yang karena latah - dapat dipastikan tidak akan meredup
drastis, terutama pada beberapa batu berkelas seperti batu Bacan yang
kepopulerannya tidak seburuk padamnya ketenaran Ikan Louhan.
Sekarang,... ke depannya masyarakat di Indonesia ini, demam apalagi setelah berlalunya demam ikan louhan, tanaman gelombang cinta dan baru saja akan berakhir yaitu batu akik,
kira-kira apa yah?
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar