Social Icons

Jumat, 03 November 2017

DEMAM APALAGI DI INDONESIA SETELAH BERLALUNYA IKAN LOUHAN. GELOMBANG CINTA & BATU AKIK ?









DEMAM APALAGI DI INDONESIA
SETELAH BERLALUNYA
IKAN LOUHAN, GELOMBANG CINTA & BATU AKIK ?


Beberapa  bulan ini sebagian masyarakat kita menggemari batu akik, suatu jenis batu permata khas lokal. Hal ini berdasarkan dipicu ketika  melihat pembesar Indonesia menggunakan cincin batu lokal dari daerah Maluku yang dikenal sebagai Batu Bacan. Seperti biasa masyarakat kita ini sering terkena penyakit latah, serta adanya keinginan meniru sesuatu yang kiranya  digemari pada seorang pemimpin nomor satu negara.

Wabah latah  batu akik mulai terlihat dengan munculnya pedagang kelas kaki lima sampai ke pedagang batu permata kelas toko. Kondisi ini membuat pedagang kelontong atau pedagang cita seperti di Kota Bumi, Tangerang tempat penulis tinggal, ada yang juga menggelar lapak tambahan, khusus menjual batu akik dari berbagai daerah di Indonesia.

Sedangkan asal batu akik yang sudah dikenal lama bagi penggemar dan kolektor batu antara lain dari Sukabumi, Garut , Cilacap, Pacitan, Martapura Kalimantan. Di masa itu batu akik di luar Kecubung Kalimantan masih tergolong bukan batu berkelas atas, apalagi yang masih disebut batu Badar atau jenis Sulaiman., seperti sulaiman cempaka, sulaiman madu, badar asem, badar besi dan yang segolongan dengan itu.  Batu yang dianggap berkelas kebanyakan batu dari luar Indonesia, seperti  batu Ruby Burma, Blue Saphire Ceylon atau Jamrud Colombia yang terlihat bening mengkristal. Di strata bawahnya ada king saphire, white saphire, black saphire, topaz, alexandre, aquamarine, nilam India.  

Fenomena latah sebagian masyarakat kita sebelum tergila-gila pada batu akik, agaknya juga pernah terjadi antara 2007 sampai 2008, ketika  pohon yang tidak mempunyai bunga, yaitu Gelombang Cinta (Antharium sp) menjadi booming. Antharium Jenmanii yang sebesar kuku  kelingking dihargai ratusan ribu rupiah. Kalau daun sudah mekar melebar plus tongkol merah pucatnya bisa dihargai jutaan rupiah. Kabarnya ada yang bisa ditukar dengan motor bebek baru.

Tapi menanam dan memelihara pohon itu tidak seperti memelihara batu. Pohon lebih banyak meminta perhatian, mulai dari penyiraman, pengaturan sinar matahari sampai kepemupukan. Dengan resiko ketika perawatan pohon tidak sebagaimana mestinya hasilnya tidaklah indah, tragisnya bila mati karena  keteledoran perawatan, atau diganggu hewan  peliharaan sendiri.

Di masa booming Gelombang Cinta, kita masih ingat ada jenis Antharium Hookeri tulang ikan yang berharga Rp 2 juta per pot. Sedangkan yang murah Antharium Wave of love yang dihargai Rp 800.000,- per pot. Gilanya memberi harga terlihat pada jensi Jennanii Variegatta yang per daun dihargai Rp 2,5 juta . Fantastis. Padahal  Gelombang Cinta  manfaatnya hanya memperindah taman luar ruang.

Diperkirakan naik daunnya pamor Gelombang Cinta di masa lalu, kemudian menjadi layu, nasibnya tidak akan merosot separah "kegilaan" orang pada batu akik. Karena  selama  orang kita masih percaya tahyul dan mitos serta dianggap ada manfaat spiritual, selain karean faktor keindahan dan unik, batu akik tidak akan merosot drastis ketenarannya dibandingkan saat sebagian orang kita sempat menjadi berpikir tidak rasional terhadap  Gelombang Cinta. Kegemaran mengoleksi batu akik dan jenis batu permata lainnya bagi yang asli hobi batu - bukan yang karena latah - dapat dipastikan tidak akan meredup drastis, terutama pada beberapa batu berkelas seperti batu Bacan yang kepopulerannya tidak seburuk padamnya ketenaran Ikan Louhan.

Sekarang,... ke depannya masyarakat di Indonesia ini, demam apalagi setelah berlalunya demam ikan louhan, tanaman gelombang cinta dan baru saja akan berakhir yaitu batu akik,
 kira-kira apa yah?

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter