Social Icons

Minggu, 29 Oktober 2017

Political Ethics review: Analysis of Politician Hate Speech






ULASAN ETIKA BERPOLITIK



ANALISIS UJARAN KEBENCIAN POLITIKUS




Ada politikus yang menyampaikan pesan kebencian bahwa mereka yang berbeda pilihan politik dengan kita adalah orang-orang yang tidak terselamatkan. Kata-kata ini merupakan salah satu ujaran kebencian politikus, dalam menghadapi lawan politiknya. Memang sungguh disayangkan begitu banyak politikus yang hebat di dalam berpolitik tetapi masih saja, menyebarkan ujaran kebencian.

Di sini penulis tertarik dengan masalah ini, yang akhirnya penulis mencoba menganalisisnya berdasarkan tinjauan etika komunikasi.


            KONDISI:

-        Politikus  menyampaikan pesan ujaran politik kebencian.

MASALAH:

-        Pesan Politikus adalah:  berbeda pilihan politik adalah orang-orang yang tidak terselamatkan.

-        Bagaimanakah apabila ditinjau dari etika komunikasi?



            ANALISIS:

            Berkomunikasi

-        Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat suatu sistem yang mengatur tentang tata cara manusia bersosialisasi. Tata cara bersosialisasi  saling menghormati dan toleransi, hal ini biasa kita kenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain. Dalam tata cara bersosialisasi, dapat menggunakan pesan secara lisan dan tulisan. Pesan adalah muatan atau content komunikasi yang dikemas atau dikonstruksi sebagai informasi, berita, isu dan lain sebagainya (Henry, 2014) . Disini pesan yang disampaikan politikus adalah pesan yang bermuatan politik. Pesan politik merupakan salah-satu unsur penting dalam komunikasi politik. Pada hakikatnya, pesan adalah suatu informasi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan yang bertujuan untuk mencari persamaan makna atau persepsi. Karena pada dasarnya pula, pesan biasanya berisikan tentang gagasan atau ide manusia untuk disampaikan .

bahkan untuk diperbincangkan dengan manusia lain, bisa beragam bentuk, dan ditransformasikan kepada khalayak dengan menggunakan media, baik media cetak, elektronik, dan online.

Beretika

-        Apabila dikaitkan dengan etika berkomunikasi, maka politikus tersebut jauh dari beretika. Istilah etika berasal dari kata ethikus (latin) dan dalam bahasa Yunani disebut ethicos yang berarti kebiasaan norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran baik dan buruk tingkah laku manusia. Jadi, etika berkomunikasi adalah norma, nilai, atau ukuran tingkah laku baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat.

-        Selain itu etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut dan merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar. Seorang politikus yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

-        Bagi politikus yang menyebarkan pesan politik kebencian bahwa mereka yang berbeda pilihan politik dengannya, adalah orang-orang yang tidak terselamatkan merupakan politikus yang tidak beretika. Terdapat  unsur negative dalam etika berkomunikasi tersebut, biasanya istilah tersebut banyak yang menyimpulkan pada sesuatu kebohongan, kepalsuan, dan abstrak dalam ungkapan sebuah perkataan, sehingga sesuailah  pendapat Dr. A. Voemans dalam Henry (2014),  tentang di dalam Etika dan etik terdapat hubungan yang erat dengan masalah pendidikanya para politikus.

-        Adanya propaganda politikus, hal tersebut merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling ekstrim dalam dunia politik adalah propaganda. Karena pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini bersifat terus menerus demi menciptakan sebuah opini public yang baru dan diharapkan menjadi kuat, sehingga dalam hal ini khalayak dapat disetir oleh pemberitaan yang disampaikan oleh komunikator pesan tersebut.

-        Berdasarkan analisis dari penggolongan etika, dalam menelaah ukuran baik dan buruk suatu tingkah laku yang ada dalam masyarakat kita bisa melakukan penggolongan etika menjadi dua kategori yaitu:

1.      Etika Deskriptif

usaha menilai tindakan atau perilaku berdasarkan pada ketentuan atau norma baik buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kerangka etika ini pada hakikatnya menempatkan kebiasaan yang sudah ada di dalam masyarakat sebagai acuan etis. Suatu tindakan seseorang disebut etis atau tidak, tergantung pada kesesuaiannya dengan yang dilakukan kebanyakan orang.

2.      Etika Normatif

Etika yang berusaha menelaah dan memberikan penilaian suatu tindakan etis atau tidak, tergantung dengan kesesuaiannya terhadap norma-norma yang sudah dibakukan dalam suatu masyarakat.

Norma rujukan yang digunakan untuk menilai tindakan wujudnya bisa berupa tata tertib, dan juga kode etik profesi.

-        Ditinjau dari analisis aliran etika, menurut John C. Merill  dalam Dan (2010) menguraikan adanya berbagai aliran etika yang dapat digunakan sebagai standar menilai tindakan etis, antara lain sebagai berikut:

1.      Aliran Deontologis

Deon berasal dari bahasa Yunani yaitu “yang harus atau wajib” melakukan penilaian atas tindakan dengan melihat tindakan itu sendiri, artinya suatu tindakan secara hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Kriteria etis ditetapkan langsung pada jenis tindakan itu sendiri ada tindakan atau perilaku yang langsung dikategorikan baik, tetapi juga ada perilaku yang langsung dinilai buruk. Misalnya perbuatan mencuri, memfitnah, mengingkari janji. Adapun alasannya perbuatan itu tetap dinilai sebagai perbuatan yang tidak etis dengan demikian ukuran dari tindakan ada didalam tindakan itu sendiri.

2.      Aliran Teologis

Aliran ini melihat nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat dari tujuan atas tindakan itu. Jika tujuannya baik, dalam arti sesuai dengan norma moral, maka

tindakan itu digolongkan sebagai tindakan etis.

3.      Aliran Etika Egoisme

Aliran ini menetapkan norma moral pada akibat yang diperoleh oleh pelakunya sendiri. Artinya, tindakan diketegorikan etis atau baik,  apabila menghasilkan yang terbaik bagi diri sendiri.

4.      Aliran Etika Utilitarisme

Aliran yang memandang suatu tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang banyak. Dengan demikian, tindakan itu tidak diukur dariv kepentingan subyektif individu, melainkan secara obyektif pada masyarakat umum. Semakin universal akibat baik dari tindakan itu, maka dipandang semakin etis.



SIMPULAN:



-        Politikus  tersebut sepertinya tidak berpendidikan, hal tersebut diperkuat dengan  pendapat  ahli bernama Dr. A. Voemans dalam Dan (2010) yang memaparkan tentang di dalam Etika dan etik terdapat hubungan yang erat dengan masalah pendidikan.

-        Politikus tersebut tidak ada  Etika Komunikasi dan Tata cara pergaulan aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam bermasyarakat dan menentukan nilai baik dan nilai tidak baik bertujuan untuk menjaga kepentingan komunikator dengan komunikan agar merasa senang, tentram, terlindungi tanpa ada pihak yang dirugikan kepentingannya dan perbuatan.

-        Pesan Politikus tersebut dalam perdebatan politik antar-elite, dianggap tidak cocok secara kultural bagi bangsa Indonesia, dan yang dilakukan tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku serta tidak bertentangan dengan hak asasi manusia secara umum apalagi dengan propagandanya yang mengancam keberadaan terselamatkan bagi pendukung dan lawan politiknya.

-        Politikus tersebut mempunyai tujuan tidak baik atas tindakannya tidak sesuai dengan norma moral, karena etika jauh lebih absolut dan merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.


REFERENSI

Nimmo, Dan. 2010. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. PT Remaja Rosdakarya: Bandung

Subiakto, Henry dan Rachmah Ida 2014.  Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi. Prenada Group: Jakarta              

http://komunikasipolitikubl.blogspot.co.id/2012/04/pesan-politik.html.  Diakses pada hari Selasa, 28 Maret 2017. Pukul 16.20 WIB

http://www.kompasiana.com/nielsye/peran-media-massa-dalam-komunikasi-politik. Diakses pada hari Selasa, 28 Maret 2017. Pukul 16.55 WIB


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter