Social Icons

Kamis, 26 Oktober 2017

The 8th Habit, ulasan buku bagian pertama

                         




THE 8th HABIT
Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan


                   
     Judul Buku        :        The 8th Habit (Melampaui Efektivitas,  
                                          Menggapai  Keagungan)
Nama Penulis     :         Stephen R. Covey
Tahun Terbit      :         2005
Penerbit              :         Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit     :         Jakarta

GAMBARAN TENTANG BUKU

Puluhan juta manusia di seluruh dunia telah mendapat wawasan yang cemerlang dari Stephen R. Covey dengan bukunya the 7 Habits of Highly Effective People. Baik secara pribadi maupun profesional, banyak sekali orang yang belajar menjadi manusia efektif dengan melakukan 7 kebiasaan itu.
Dunia terus berubah, dan tantangan di berbagai bidang menyeruak, menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang lebih. Menjadi efektif saja tak cukup. Panggilan manusia lebih besar daripada itu, dan Stephen R. Covey menggelar peta untuk mencapai sesuatu yang lebih itu. The 8th Habit mengajak kita mulai memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, untuk melampaui efektivitas dan meraih keagungan.
Keduanya bisa diraih dengan melakukan 4 peran kepemimpinan, yaitu menjadi anutan, menjadi perintis jalan, menjadi penyelaras, dan menjadi pemberdaya.
Dengan demikian kita akan menemukan panggilan jiwa kita dan hidup penuh kebanggaan maupun gairah yang luar biasa, serta mulai mengilhami orang lain untuk menemukan panggilan jiwa mereka, dengan dibimbing oleh 4 kecerdasan—fisik (PQ), mental (IQ), emosi (EQ), spiritual (SQ)—dimana ketiga kecerdasan yang pertama tunduk kepada kecerdasan yang terakhir, yang disebut hati nurani. Dalam proses itu, hidup ini menjadi penuh dengan makna dan keagungan.

      1.    Derita Kita
Di dalam organisasi, derita yang bersifat pribadi dan amat mendalam nyata sekali dalam ketidakmampuan orang-orang untuk berfokus pada melaksanakan prioritas tertinggi dengan memanfaatkan apa yang disebut xQ (Execution Quotient) atau kecerdasan pelaksanaan. Menjadi efektif sebagai individu dan organisasi bukan lagi merupakan pilihan dalam dunia kita sekarang ini—sebaliknya, itu adalah harga yang harus dibayar untuk masuk ke medan permainan. Untuk dapat bertahan hiudp, bertumbuh, berinovasi, menjadi unggul, dan terkemuka dalam realitas baru zaman kita ini kita tidak hanya harus membangun efektivitas, tetapi juga melampauinya. Karena itu, penambahan kebiasaan ke-8 bukan sekedar merupakan penambahan satu kebiasaan lagi terhadap 7 kebiasaan yang sudah ada, namun tentang melihat dan memanfaatkan kekuatan dimensi ketiga dari 7 kebiasaan yang bisa menjawab tantangan sentral dari abad pekerja pengetahuan. Kebiasaan ke-8 adalah “Menemukan Suara Panggilan Jiwa Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Kemerdekaan Jiwa Mereka.”

      2.    Masalahnya
Beberapa generasi telah berlalu dan tibalah zaman industri, orang membangun pabrik dan belajar spesialisasi, delegasi, dan kemampuan untuk memperbesar skala usaha. Mereka belajar cara memecah produksi barang menjadi langkah-langkah individu yang berurutan, lantas memproses bahan mentah melalui ban berjalan sesuai urutan. Proses ini menghasillkan tingkat efisiensi yang sangat tinggi dan meningkatkan produktivitas sebanyak 50 kali lipat dari pertanian keluarga. Cara meningkatkan produktivitasnya adalah dengan pengelolaan manusia yang sekedar dianggap seperti seekor keledai, yang harus dikendalikan dengan hadiah dan hukuman, dimotivasi dengan meletakkan wortel (hadiah) dihadapannya dan dipacu dengan cambuk (ketakutan dan hukuman) dibelakang.
Kita hidup di zaman pekerja pengetahuan, tetapi menjalankan organisasi dengan mengikuti model zaman industri yang bersifat mengontrol dan mengekang pemanfaatan sepenuhnya potensi manusiawi. Karena banyak orang yang memegang otoritas tidak mengetahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orangnya, serta tidak memiliki pemahaman mengenai kodrat manusia, mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang.
Masalah ini adalah milik akar pribadi yang melibatkan sebuah paradigma dan seperangkat tradisi yang sudah berurat berakar di tempat kerja.

3    3 .    Pemecahan Masalah
Pertama-tama mengubah diri dari dalam ke luar dengan karakter, kompetensi, inisiatif, dan energi positif mereka. Mereka memiliki gambaran yang jelas mengenai identitas diri yang mengakar pada diri mereka, menemukan kekuatan dan bakat mereka, dan memanfaatkannya untuk melayani kebutuhan dan memberi hasil yang bagus. Orang-orang mengetahui hal itu lalu mereka diberikan tanggung jawab yang semakin besar, lalu mereka memenuhi tanggung jawab itu dan sekali lagi membuahkan hasil. Orang seperti itu tidak tersedot oleh segala kekuatan negatif yang melemahkan semangat dan merendahkan martabat orang yang ada didalam organisasi mereka.
Cara terbaik untuk mengatasi masalah derita dalam probadi masing-masing orang adalah dengan menemukan suara dengan memahami kodrat yang sebenarnya (sesuatu yang disebut tiga anugerah luar biasa yang dimiliki sejak lahir dan dengan mengembangkan serta dengan integritas memanfaatkan kecerdasan yang terkait dengan keempat bagian dari kodrat pribadi masing-masing. Kemudian menyatakan suara yang dimiliki dengan memelihara perwujudan tertinggi dri kecerdasan manusia ini, yaitu: visi, disiplin, gairah hidup, dan nurani.


                               %%%% bersambung ke bagian 2 %%%%

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Number visiter